Rabu, 16 Juni 2021

Cerpen: Sekeping Mimpi Maharani

*Naskah ini pernah diikutsertakan dalam lomba cerpen Project Saira Akira, pada Agustus 2016. Pada tahun itu, masih berlaku Undang-Undang  Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 yang menyatakan bahwa usia minimal pernikawinan bagi perempuan adalah 16 tahun.






Tahukah kau betapa pentingnya harapan? Tanpa harapan, hatimu tak akan tersentuh untuk berdoa.
Tanpa harapan, kakimu tak akan tergerak untuk berusaha.
***

Bahu Rani terkulai lemah. Hatinya berantakan. Baru saja, Ibunya memberi kabar mengejutkan. Kabar yang mengancam masa depannya, juga menghancurkan mimpi-mimpinya.

"Nah Rani, kenalkan, ini putra kedua Pak Salih."

Ada nada bangga yang tersirat dari ucapan Ibu saat menyebut nama Pak Salih. Bagaimana tidak, Pak Salih adalah orang terpandang. Beliau juragan tanah yang sawah dan ladangnya berhektar-hektar. Ternaknya banyak dan beragam. Pak Salih juga dihormati karena banyak menyumbang dalam pembangunan fasilitas umum di desa ini.

Bukan cuma itu, beliau pun, dermawan yang selalu mengulrkan tangan untuk membantu keluarga Rani.

Laki-laki itu bertubuh jangkung, berkulita sawo matang khas orang Indonesia. Rambutnya hitam. Memiliki tahi lalat di dekat hidung, berdaun telinga lebar, dan umurya 27 tahun.

"Pepep Tirta Koswara, panggil Petra aja."

Wajah Rani berubah kecut. Petra katanya? Mungkin laki-laki itu lupa bahwa mereka tumbuh di tanah yang sama. Seingat Rani, dulu ia dipanggil Pepep. Ujang Empep--waktu masih kecil.

"Nama saya Maharani."

"Kalau saya manggilnya Sweety gimana?" Pepep mengerling, membuat Rani melotot. Bukan cuma ucapannya yang menjijikkan, jemari laki-laki itu bahkan berani menggelitik telapak tangan Rani. Menggodanya terang-terangan.

Rani teringat pertemuan pertamanya dengan Pepep dua bulan lalu. Laki-laki itu genit dan menyebalkan. Datang dengan mobil mentereng dan pakaian kekinian. Dihari pertama mereka bertemu, Rani tak menyangka kalau Pepep berniat menikahinya. Yang lebih menyakitkan, Ibu sudah menerima lamarannya.

Ketukan dibalik pintu menarik konsentrasi Rani. Ibu masuk dengan raut wajah tak terbaca. Rani menunduk, tak sanggup menatap Ibu lama-lama.

"Rani tidak ingin menikah, Bu," bisiknya lirih. Suaranya tertelan oleh tangis yang tak bisa dicegah.

"Ibu tidak memberi pilihan lain," tegasnya. "Kamu mau mempermalukan Ibu dengan membatalkan lamaran yang sudah diterima?"

Rani tidak ingin membuat ibu malu, tapi sekarang sudah bukan zamannya lagi orang tua memaksakan kehendak dengan menerima lamaran tanpa persetujuan anak.

"Rani masih ingin kuliah―"

"Kuliah?" Ibu menyela. Dengan kasar, wanita 47 tahun itu mengambil buku yang tersusun rapi di meja belajar. Meski sempat terhenyak ketika nyeri di panggulnya terasa, tidak menghentikan niat ibu untuk bicara.

"Kamu lihat ini!" Ibu mengacungkan buku 7 Habbits of Highly Effective Teens.  Buku yang didapatkan Rani saat menjuarai lomba menulis essai tahun lalu. "Kamu baca buku tiap hari, tapi membaca tidak membuatmu mendapatkan uang! Lebih baik kamu menikah, hidupmu bisa terjamin. Perempuan akan kembali ke dapur, setinggi apa pun pendidikannya!"

Kalimat-kalimat tajam ibu menghunus tepat di jantungnya. Rani bukan menginginkan gadget terbaru, sekotak make-up Kylie, atau tas mahal. Rani hanya ingin melanjutkan pendidikan. Rani berhak menentukan kepada siapa ia akan menyerahkan diri dan menghabiskan hidup. Tapi di hadapan ibu, Rani kehilangan hak yang sudah dimilikinya sejak lahir.

Seandainya ia mendapatkan beasiswa, mungkin Rani tidak akan terjebak dalam perkenalan bersama Pepep. Rani gagal mendapatkan beasiswa ke Universitas. Kuota beasiswa di sekolahnya hanya tersedia untuk satu orang dan berakhir dengan didapatkan oleh temannya sekelasnya. 

Rani sudah giat belajar siang dan malam untuk beasiswa itu. Sampai dimarahi ibu karena terus-menerus duduk tanpa kegiatan. Padahal sebuah buku terbuka di pangkuannya. Bagi ibu, berkegiatan adalah membersihkan rumah, mencuci baju, memotong rumput, atau memasak. Membaca tidak termasuk dalam hitungannya.

Sedangkan bapak sudah meninggal akibat stroke saat Rani masih berumur 9 tahun. Selama ini hanya ibu yang berjuang mencari nafkah. Sejak lulus SMP, ibu menginginkan Rani berhenti sekolah. Menurut ibu, perempuan tak perlu sekolah tinggi. Di mata ibu, mampu meracik sambal dan menanak nasi jauh lebih penting daripada nilai matematika 90.

Seperti tiga tahun yang lalu, Rani nyaris tidak bisa melanjutkan pendidikan SMA. Ibunya hanya seorang buruh di pabrik garmen. Kontrak kerja yang terputus membuat Ibu nyaris berhenti setiap tiga bulan. Pabrik lebih memilih pegawai muda, daripada wanita seusia ibu. Ibu sudah di-PHK sejak akhir tahun lalu. Pekerjaannya kini serabutan. Sementara kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi.

Tanpa bantuan Pak Salih dan keluarganya, mungkin mereka tidak bisa hidup sampai saat ini.

Rani anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki dan sudah dewasa. Kakak pertamanya Danu, bekerja sebagai sopir angkot dan sudah dua tahun tak pernah mudik lebaran. Kakak keduanya bernama Hilman, seorang guru honorer. Hilman-lah yang meyakinkan ibu bahwa Rani butuh sekolah. Perempuan harus memiliki pendidikan tinggi. Hingga Ibu luluh dan mengizinkan Rani masuk SMA. Sayangnya Hilman sudah meninggal setahun lalu, akibat kelainan paru-paru yang dideritanya sejak kecil.

"Kamu sudah cukup umur, Rani."

Ibu benar. Undang-undang di Indonesia menentukan batas minimal usia menikah pada angka16 tahun untuk perempuan. Remaja perempuan yang minimal berumur 16 tahun legal untuk menikah. Tapi menikah diusia 17 tahun sama sekali tak ada dalam rencana hidupnya.

Nyaris setiap hari, televisi dan surat kabar memberitakan perceraian dan kekerasan rumah tangga. Atau contoh yang lebih nyata, Ningsih, tetangga mereka sudah dua kali menjanda diumurnya yang belum genap dua puluh tahun. Dan sekarang hidup memprihatinkan dengan seorang anak yang masih batita.

Tidakkah Ibu paham, bahwa untuk menjalan pernikahan perlu kedewasaan pikiran dan kematangan emosi?

Tidakkah Ibu mengerti bahwa anaknya ini memiliki daftar impian dan cita-cita yang panjang? Bahkan memiliki perasaan untuk mencintai lelaki pilihannya sendiri?

Rani ingin sekolah tinggi untuk menjadi dokter dan mengabdi di desa ini. Supaya kematian karena terlambat mendapat penanganan medis seperti yang dialami bapak dan kakaknya tidak terjadi lagi.

Rani mengagumi seseorang yang namanya hanya berani ia sebut dalam doa.

Apa Rani harus mengikis impian dan cita-cita cintanya begitu saja?

"Kamu cantik, Rani. Jika tak segera dinikahkan kamu bisa jadi santapan lelaki! Ibu gak mau kamu bernasib seperti Mae!"

Entah Rani harus malu atau tersinggung dengan ucapan ibu. Hampir setahun lalu, Mae, gadis paling cantik di desa ini hamil tanpa suami. Setelah itu Mae menghilang. Ibu bicara seakan Rani remaja yang suka menggoda pemuda desa. Seperti itukah Ibu melihatnya?

"Tapi Rani baru 17 tahun, Bu...."

"Ibu menikah dengan Bapakmu umur 15 tahun!" sahutnya cepat. "Dan sampai sekarang, Ibu baik-baik saja!"

Rani merengut. Ibu mungkin lupa pada nyeri panggul yang dideritanya. Begitu banyak risiko pernikahan dini dan kehamilan remaja. Abortus, prematuritas, anemia, gestosis karena alat reproduksi yang belum siap mengandung, dan masih banyak lagi. Tapi Rani menelan semua penjelasannya untuk diri sendiri. Sebab sehebat apa pun kosakata kedokterannya, Ibu tidak akan mengerti.

***

Sehari sebelum akad. Sedikit pun Ibu tidak mengubah keputusannya. Beliau bahkan tak ambil pusing saat Rani mulai berhenti makan, menangis, dan mengurung diri di kamar. Ibu yakin ini hanya sementara. Nanti Rani akan bersyukur dengan keputusan yang dipilihkannya.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari ketika ketukan pelan terdengar di jendela kamar. Rani menutup selimut sampai kepala, mungkin itu hanya pendengarannya saja. Mungkin ia terlalu takut. Dalam hati, Rani berdoa semoga hari esok tak pernah tiba.
Tapi semakin diabaikan, ketukan di jendela itu terdengar makin sering. Rani memberanikan diri. Sebelah tangannya memegang sapu, sementara tangannya yang satu membuka jendela.

Rani nyaris memukulkan gagang sapu jika seseorang di balik jendela itu tidak buru-buru menahannya.

"Ini saya."

Rani kaget melihat Pepep memakai baju tidur, dan jaket yang terbalik.

Pepep berdeham. "Saya buru-buru," ucapnya. Rani tidak menjawab, membiarkan Pepep mengatakan sendiri maksud kedatangannya.
"Maaf saya ganggu, tapi saya ingin menyampaikan hal penting."

Rani masih tetap diam.

"Sebenarnya ... pernikahan ini dilakukan untuk menyelamatkan kamu."

Omong kosong! Pepep hanya bujang tua yang berusaha mengambil keuntungan dari gadis belia tak berdaya sepertinya. 

Rani mendengus sinis. "Saya gak percaya, lebih baik kamu pergi."Rani menutup jendela namun Pepep menahannya.

"Kamu dengarkan dulu! Saya belum selesai!" Rani tetap menutup paksa. Mengabaikan jemari Pepep yang terjepit dan mulai memerah. Membuat Pepep mendorong sekuat tenaga.

"Mau mau apa lagi?!"

"Saya mau ngomong!"

"Itu ngomong!"

Pepep mendengus. "Dengar, saya menyelamatkan kamu, itu bukan main-main," tegasnya. "Kalau saya tidak menikahi kamu, Bapak saya akan menikahkan kamu dengan Kang Engkus. Kamu mau nikah sama Kang Engkus?"

Rani ternganga. Kang Engkus adalah kakak kandung Pepep. Umurnya mungkin sudah akhir tiga puluhan dan ... seorang duda.

"Bohong!"

"Terserah kalau gak percaya. Di sini, bukan cuma kamu yang terpaksa, tapi saya juga! Kamu punya mimpi, saya juga punya mimpi untuk menikah dengan perempuan lain!"

"Kalau gitu nikah aja sama orang lain!"

Dalam sekejap raut wajah Pepep berubah sedih. "Gak mungkin," desahnya, "dia sudah meninggalkan saya."

***

Rani tertunduk lesu. Ia tak berani menatap para tamu undangan yang datang ke pernikahannya.

Diantara tamu-tamu itu, ada Bagas. Pemuda tampan yang dikagumi Rani diam-diam. Melihat Bagas hanya membuat hatinya semakin sakit. Bagas bukan cuma rupawan, ia juga berotak cerdas, putra seorang guru yang dihormati. Bagas-lah teman sekolahnya yang berhasil meraih beasiswa.

Memikirkan beasiswa membuat jantungnya seperti diremas. Sekarang sudah final, pernikahan akan dimulai. Harapannya sudah tipis, bahkan ... nyaris tidak ada.

Rani pasrah. Semua usaha untuk meyakinkan Ibu telah dilakukannya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Maharani binti Ahmad dengan maskawin seperangkat alat salat--"

"HENTIKAN!"

Seorang perempuan muda menjerit, menginterupsi ijab kabul yang berjalan khidmat dan memaksa masuk ke tempat akad.

"Mae?"

"Kamu harusnya nikah sama saya, Kang! Bukan sama dia!" Mae menunjuk wajah Rani yang pucat. "Kamu ingat yang kita lakukan setahun lalu?" ucapnya berani. "Yang saya kandung itu anak kamu, Kang!" Mae mendekatkan bayi dalam pangkuannya kepada Pepep. "Ini anak Akang," bisiknya lirih. "Namanya Petra."

"Dia laki-laki? Dia hidup?" suara Pepep bergetar. Diraihnya bayi itu, tampak nyaman dalam pangkuannya. Kulit bayi itu sangat halus. Rambutnya hitam, ada titik kecoklatan di dekat hidungnya. Seperti tahi lalat yang belum tumbuh.

Tamu undangan berbisik-bisik, Pak Salih marah, tapi Pepep mengabaikannya.

Dengan penuh keteguhan Pepep menatap semua orang dengan berani. "Saya tidak ingin pernikahan ini dilanjutkan."

Diantara orang-orang yang marah dan mendesah kecewa, hanya Rani yang tersenyum dalam tangisnya.

***

Keesokan harinya Pepep bersama Mae mendatangi Rani. Tidak ada ketegangan dalam pertemuan itu. Pepep telah bertanggung jawab pada Mae dan anaknya. Hutang-hutang keluarga Rani dibebaskan, Pepep yang meminta bapaknya untuk tidak menuntut keluarga Rani, meski ia tidak menikahinya.

"Ada seseorang yang ingin bertemu," ucap Pepep siang itu. Belum sempat bertanya siapa, seorang laki-laki datang mendekati Rani.

"Bagas yang ngasih tahu saya kalau kamu akan dinikahkan sama Kakang. Kami gak sengaja ketemu di kota waktu itu. Kalau bukan Bagas yang meyakinkan, mungkin sampai sekarang saya gak akan pulang."

Rani bersyukur pernikahan itu tak pernah terjadi, meski mungkin setahun ke depan keluarganya akan jadi bahan obrolan ibu-ibu warung, dan bapak-bapak pos kamling, Rani tak peduli. Sebab Mae-lah pendamping Pepep yang seharusnya.

"Saya juga ingin mengakui sesuatu," Bagas membuka suara. Tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah map dari ransel. "Seharusnya kamu yang berhak menerima beasiswa, Rani."

Tanpa ragu, Bagas mengaku bahwa ada kecurangan yang dilakukan orang tuanya. 
"Ayah menuntut saya untuk selalu unggul. Menyadari nilai saya yang selisih di bawah kamu, ayah mengubah itu. Maafkan saya. Maafkan Ayah saya. Saya janji akan meminta Ayah untuk mengembalikan hak kamu secepatnya."

Di balik pintu, Ibu mendengarkan. Isak tangisnya menembus dinding yang tipis. Menyadari itu, Rani menghampiri beliau. Tidak ada tatapan sinis atau kalimat pedas yang diucapkannya lagi. Matanya menyorot penuh kasih. Ibu memeluk Rani, mengucapkan maaf berulang kali.

Rani tahu betapa berat beban Ibu selama ini. Tangis Ibu menjelaskan semuanya.

"Maafkan Ibu, Nak. Percayalah, sedikit pun, Ibu tidak pernah meragukan kemampuanmu."

Rani tahu, bukan keinginan Ibu memasungnya dalam ketidakberdayaan. Memaksanya untuk berhenti sekolah dan menikah muda. Ibu sudah melakukan semua yang mampu diusahakannya sejak ia belum lahir ke dunia. Sejak Bapak meninggal sampai dirinya tumbuh dewasa. 

Rani menangis terharu. Keyakinannya kuat, Tuhan memang tidak menutup telinga untuk mendengar doa dan harapan-harapannya. 

Rani mengurai pelukan Ibu. Berhadapan Bagas, Rani berterima kasih atas kejujurannya. Senyum pemuda itu melengkung. Tak ada sesal yang menggurat di wajahnya. Jika mau, Bagas bisa menyimpan rahasia itu selamanya. Namun ia tak ingin menerima yang bukan haknya. Lebih dari itu, Bagas senang melihat Rani tersenyum bahagia.

***

Klik tautan ini untuk membaca cerita lainnya. ;)

Read More