Kamis, 25 Mei 2017

Resensi Everything, Everything


Judul: Everything, Everything
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-602-74322-5-3
Penerbit: Spring

Blurb:
Penyakitku langka, dan terkenal. Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujuh belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokiku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.

***

Adalah Madeline Whittier, remaja 17 tahun yang mengidap penyakit SCID―servere combined immunodeficiency. Sebuah penyakit lemahnya sistem imun yang membuatnya rentan terkena virus. Maddy tinggal di rumah yang memiliki sistem filter udara khusus. Maddy tidak bisa bertemu sembarang orang. Orang-orang yang bertemu dengannya harus melalui proses desinfeksi. Penyakit ini membuat Maddy tidak bisa keluar rumah meski sejengkalpun.

Ketika ibunya bekerja, ia dirawat oleh Carla, perawatnya yang baik hati. Baginya Carla bukan sekadar perawat, tapi juga sahabat dan ibu kedua. Di rumah, Maddy hanya belajar dan membaca buku, koleksi bukunya banyak sekali. Tapi kehidupan monoton Maddy berubah ketika seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya.

***

Sosok Maddy dalam cerita ini, mengingatkan saya kepada Rapunzel. Tokoh Disney Princess legendaris yang tidak pernah turun dari menara seumur hidupnya. Seperti Rapunzel, Maddy juga tidak pernah keluar rumah. Bedanya, Maddy tidak dikurung oleh penyihir jahat, melainkan karena dia sakit.

"Semua berisiko. Tidak melakukan apa-apa juga punya risiko. Semua terserah kau." hlm. 76

Ini adalah salah satu percakapan Maddy dengan Carla. Ketika Maddy diam-diam menentang protokol yang dibuat ibunya untuknya agar tidak bertemu dengan sembarang orang. Dan ini adalah salah satu kalimat yang paling saya ingat. Meskipun Olly ganteng sampai bikin Maddy terkintil-kintil, Carla adalah tokoh favorit saya.

"Luangkan sedikit waktu bersama ibumu. Pacar datang dan pergi, tapi ibu adalah milikmu selamanya." hlm. 120.

Membaca buku ini, saya tidak dibawa masuk ke dalam kehidupan Maddy. Ada beberapa hal yang membuat saya bingung dan membuat saya harus membaca ulang bagian itu karena janggal. Seperti ketika dokter di Hawai yang menemukan keanehan dalam diri Maddy, tapi luput dari Carla yang memeriksanya setiap hari selama bertahun-tahun. Ending-nya juga gak seperti harapan saya. Saya gak setuju dengan sikap Maddy kepada ibunya.  Eh, saya emang pembaca banyak maunya. LOL. Saya sendiri bingung, kenapa bisa memberikan rating 4 bintang di Goodreads beberapa waktu lalu? Sepertinya saya terpngaruh kata mereka yang mengatakan buku ini bagus. Buku ini memang bagus, kovernya foto genik, cantik, lucu. Ah pokoknya segala kata yang bagus untuk mendeskripsikan kover buku ini.

Meski begitu, buku ini membuat saya tahu bahwa seorang ibu, akan melakukan apa saja demi anaknya. Sekali lagi saya ulang, apa saja. Bahkan hal paling berisiko sekalipun. Dan kalimat favorit saya dari buku ini adalah "Para ibu tidak tahu cara membenci anak-anak kesayangan mereka. Para ibu terlalu mencintai anak-anaknya." hlm. 270

Udah gitu aja. Oh ya, follow Instagram saya di @lulusyifaf. Yuk berteman~