Kamis, 11 Mei 2017

Resensi Elegi Patah Hati



Judul: Elegi Patah Hati
Penulis: Veradsh
Tebal: 341 halaman
Cetakan 1, Januari 2017

Blurb:
Barga Anggara adalah seorang mahasiswa 20 tahun yang menikahi wanita berusia tiga tahun lebih tua darinya. Pada awalnya, pernikahan mereka terjadi karena Frisca telah dihamili oleh Arkha—kakak Barga—yang meninggal akibat kecelakaan sebelum dirinya tahu bahwa Frisca sedang mengandung anaknya.

Lalu, bagaimanakah upaya Barga menjalani perannya sebagai kepala rumah tangga diusia yang masih sangat muda? Dan bagaimanakah cara Frisca menjalani pernikahan dengan orang asing yang belum pernah dia kenali sebelumnya? Serta mampukah keduanya memepertahankan rumah tangga mereka di tengah himpitan keadaan?

***

Apa yang akan kau lakukan seandainya ayah dari bayi yang kaukandung meninggal sebelum dia mengetahuinya? Itulah yang terjadi kepada Frisca Monica. Frisca tidak memiliki pilihan selain menikah dengan Barga, adik Arkha. Barga adalah laki-laki yang berumur tiga tahun lebih muda darinya, masih kuliah, belum memiliki pekerjaan yang mapan, dan yang lebih ironi tidak sungguh-sungguh Frisca kenal untuk menjadi pasangan hidup.

Mereka sepakat menjalani pernikahan dan memulainya dengan kesederhanaan. Sekalipun Barga adalah anak pengusaha kaya, dan Frisca juga berasal dari keluarga berada, mereka mengawali kehidupan rumah tangga dari nol. Sungguh-sungguh dari nol, dalam urusan ekonomi maupun batin.

Ditengah usahanya memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarga kecilnya, Barga juga harus meyakinkan Frisca dan perasaannya. Bagian ini bikin saya gemas, apalagi ketika cemburu tak berkesudahan dari sisa-sisa hubungan Frisca dengan Arkha naik permukaan. Saya suka Barga karena dia tokoh laki-laki yang memikat. Tapi saya ada di #TeamFrisca. Pokoknya setiap mereka beradu pendapat, entah karena saya perempuan atau bagaimana, saya selalu kepingin mendukung Frisca.

Lika-liku kehidupan Barga dan Frisca, terasa nyata sebagai kisah pasangan muda yang baru membangun rumah tangga. Konfliknya logis dan gak berlebihan. Tapi membuat saya menahan napas setiap membaca bagian Barga yang tertatih-tatih memulai usahanya.

Sulit untuk gak menyukai kedua tokoh utama cerita ini. Frisca tulus dan mengagumkan, dan Barga yang digambarkan sebagai sosok yang rupawan, tapi gak sesempurna laki-laki super seksi setampan dewa Yunani yang kaya raya nyaris punya segalanya. Barga memikat karena ketulusan hatinya. Dia seperti gambaran laki-laki yang saya harapkan untuk menjadi suami saya di masa depan.

"Karena hubungan yang sehat itu dibangun dengan sikap saling menerima, bukannya malah saling menuntut." Hal. 267

Pelajaran yang saya petik dari cerita ini adalah tulus kepada pasangan dan menerima apa adanya, dalam artian yang baik. Bukan berarti menutup mata pada sikap atau kebiasaan tidak baik pasangan. Juga mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa ketika merasa hidup sangat berat saat diuji, maka selalu ada harapan dan penyelesaian selama kita tidak pernah meninggalkan Tuhan.

"Karena Tuhan pun nggak pernah bilang bahwa hidup kita nggak akan pernah punya masalah. Tapi Tuhan selalu punya pola sendiri untuk mengatur kita. Untuk menunjukkan pada kita bahwa bahagia di tengah pengharapan itu bisa aja, kok. Karena bahagia itu sebenarnya sederhana, dan syukurlah yang mengayakan." Hal. 253

Pokoknya, kalau kamu kepingin membaca novel percintaan yang banyak mengandung nilai kehidupan, buku ini bisa menjadi pilihan.

Ada banyaaak sekali quotes yang saya simpan dari buku ini. Seperti:

"Kenapa sih semuanya harus dibikin rumit? Kenapa kita nggak coba mengubah bingung jadi tanya, mengubah firasat menjadi kejujuran, mengubah unek-unek menjadi sebuah ungkapan? Karena dalam sebuah hubungan itu intinya komunikasi...." Hal.122

"Ibarat buku, lembaran hidup kita itu serupa kertas putih. Sekotor apa pun coretan hidup kita di masa lalu, selalu ada masa depan yang lebih  bersih untuk kita isi dengan coretan kisah yang baru." Hal. 143

"Dalam hidup, jangan pernah bergerak melebihi kuasa Tuhan, Sayang. Karena Dia pasti sudah mengatur hidup setiap umat-Nya dengan perencanaan yang matang." Hal. 204-205

Tapi yang paling favorit adalah kalimat ini:

"Karena bahagia itu sederhana, tapi syukurlah yang menyempurnakan." Hal. 292.

Saya kasih 4,5 bintang untuk Elegi Patah Hati. Oh ya, sudahkah saya bilang kalau novel ini berasal dari Wattpad? Berkat Wattpad, memang banyak penulis-penulis berbakat yang karyanya bisa dikenal banyak orang. Entah itu diterbitkan penerbit mayor atau self published seperti novel ini, yang jelas itu sebuah prestasi.

Dan menurut saya, novel ini keren seperti buku terbitan penerbit besar. Kesalahan tulis seperti di halaman 36 bisa dimaafkan. Yang lebih penting ceritanya seru, tampangnya juga oke. Ilustrasinya sesuai dengan cerita. Kadang, orang tertarik beli buku selain karena blurb yang menarik, juga karena kovernya cantik. Dan novel memiliki keduanya.

Remahan komentar saya tentang buku-buku bisa dilihat di sini. Saya memang bukan bookstagramer, sih, tapi senang baca buku dan lebih sering motoin buku daripada swafoto. XD

***