Minggu, 28 Mei 2017

Resensi Cahaya di Penjuru Hati



Judul: Cahaya di Penjuru Hati
Penulis: Alberthiene Endah
Tebal: 438 halaman
ISBN: 978-979-29-6602-2
Penerbit: ANDI
Cetakan 1, 2017

Blurb:
Ruang ICU yang mencekam dengan istri tercinta. Lili, yang terbujur koma membuat Gondo dihantar untuk menguliti kehidupan yang telah lewat. Rasa cemas kehilangan cinta sejati yang amat ia kasihi membuatnya memutar ulang kenangan yang membangun hidupnya. Dan ia temukan suatu perjalanan yang menakjubkan yang tidak disadarinya. Hidupnya selama ini luar biasa. Ternyata ketika seseorang berada di tepian jurang rasa takut kehilangan, segala keindahan yang pernah diberikan orang tercinta muncul bagai gelombang tak terbendung. Kehidupan maha dahsyat dengan kekuatan cintapun mengalir kembali, seperti sebuah film yang diputar dalam benak.

Gondo pun menghayati hidupnya kembali, anak laki-laki dari keluarga miskin yang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang bercahaya. Ia lalu dipertemukan dengan seorang perempuan luar biasa yang kemudian menemaninya meniti hidup. Mencapai apa yang ia perjuangkan. Kehidupan keluarga yang indah dan bisnis. Dan layaknya kehidupan yang juga dialami banyak orang, perpisahan akhirnya menjadi bagian yang tak terhindarkab. Istrunya yang sedang koma mengalirkan sinyal perpisahan.

***

"Ketika rumah mampu menyembuhkan luka batin penghuninya, maka itulah saat di mana keluarga telah menjadi akar bagi jiwa orang-orang di dalamnya." hlm. 184

Novel ini, mengisahkan perjuangan hidup seorang laki-laki keturunan Tionghoa bernawa Wim. Ia berasal dari Sidoarjo. Keluarganya sangat seserhana. Tapi keterbatasan hidup tak membuat keluarga Wim miskin oleh kasih sayang. Wim memiliki keluarga yang penuh cinta, orang tua yang mendidiknya dengan baik, dan saudara yang lebih dari sekadar saudara sejiwa.

Wim, meski orang tuanya hanya pekerja kecil, sungguh memiliki semangat juang yang tinggi. Saya sungguh-sungguh kagum dengan keteguhan orang tua Wim yang mengupayakan anak-anaknya untuk bisa sekolah tinggi. Padahal ibu Wim cuma pedagang kecil, ayahnya pun bukan pekerja berpenghasilan besar. Tapi mereka rela berdarah-darah demi anak-anaknya.

Hidup serba terbatas membuat Wim menjadi pekerja keras. Meski 'nakal', otaknya cerdas. Sehingga dengan kemampuan dan kemauannya yang gigih, Wim bisa kuliah. Jatuh bangun perjuangannya, untuk melanjutkan pendidikan tinggi, Wim tidak berhenti. Di saat ia menyelesaikan pendidikan tingginya di kota Jogja, ia bertemu belahan jiwanya. Seorang perempuan yang menjadi cahaya dalam hidupnya.

Perlu diingat, novel ini berdasarkan kisah nyata. Saya terbawa perasaan membacanya sejak halaman pertama. Susunan kalimat yang cantik membuat narasinya tidak menjemukan. Saya semakin larut dalam kisah hidup Wim.

"Kau tahu ketika hidup telah membawamu pada pergulatan hidup selama puluhan tahun, kau akan merindukan keluarga, seperti kebutuhanmu pada udara. Mereka pelabuhanmu. Untuk mereka, kau ingin hidup. Dan kepada mereka, kau menyerahkan hari tua." Hlm. 292

Saya selalu suka novel-novel yang ceritanya tidak hanya menguras perasaan, tapi juga mengajarkan pelajaran hidup. Novel ini adalah paket lengkap, saya tak hanya 'disadarkan' untuk lebih banyak bersyukur dan berusaha,  dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tapi juga menghargai kehadiran keluarga dan waktu yang masih kita miliki bersama mereka.

Dan, seperti buku-buku biografi Alberthiene Endah sebelumnya, kabarnya kisah dalam novel ini juga akan diangkat ke layar lebar. Bagaimana, kamu tertarik baca? Saya memberi rating 5/5 untuk buku ini.

Oh ya, cek remahan komentar saya tentang buku-buku lainnya di sini, dan di sini.