Rabu, 16 Juni 2021

Cerpen: Sekeping Mimpi Maharani

*Naskah ini pernah diikutsertakan dalam lomba cerpen Project Saira Akira, pada Agustus 2016. Pada tahun itu, masih berlaku Undang-Undang  Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 yang menyatakan bahwa usia minimal pernikawinan bagi perempuan adalah 16 tahun.






Tahukah kau betapa pentingnya harapan? Tanpa harapan, hatimu tak akan tersentuh untuk berdoa.
Tanpa harapan, kakimu tak akan tergerak untuk berusaha.
***

Bahu Rani terkulai lemah. Hatinya berantakan. Baru saja, Ibunya memberi kabar mengejutkan. Kabar yang mengancam masa depannya, juga menghancurkan mimpi-mimpinya.

"Nah Rani, kenalkan, ini putra kedua Pak Salih."

Ada nada bangga yang tersirat dari ucapan Ibu saat menyebut nama Pak Salih. Bagaimana tidak, Pak Salih adalah orang terpandang. Beliau juragan tanah yang sawah dan ladangnya berhektar-hektar. Ternaknya banyak dan beragam. Pak Salih juga dihormati karena banyak menyumbang dalam pembangunan fasilitas umum di desa ini.

Bukan cuma itu, beliau pun, dermawan yang selalu mengulrkan tangan untuk membantu keluarga Rani.

Laki-laki itu bertubuh jangkung, berkulita sawo matang khas orang Indonesia. Rambutnya hitam. Memiliki tahi lalat di dekat hidung, berdaun telinga lebar, dan umurya 27 tahun.

"Pepep Tirta Koswara, panggil Petra aja."

Wajah Rani berubah kecut. Petra katanya? Mungkin laki-laki itu lupa bahwa mereka tumbuh di tanah yang sama. Seingat Rani, dulu ia dipanggil Pepep. Ujang Empep--waktu masih kecil.

"Nama saya Maharani."

"Kalau saya manggilnya Sweety gimana?" Pepep mengerling, membuat Rani melotot. Bukan cuma ucapannya yang menjijikkan, jemari laki-laki itu bahkan berani menggelitik telapak tangan Rani. Menggodanya terang-terangan.

Rani teringat pertemuan pertamanya dengan Pepep dua bulan lalu. Laki-laki itu genit dan menyebalkan. Datang dengan mobil mentereng dan pakaian kekinian. Dihari pertama mereka bertemu, Rani tak menyangka kalau Pepep berniat menikahinya. Yang lebih menyakitkan, Ibu sudah menerima lamarannya.

Ketukan dibalik pintu menarik konsentrasi Rani. Ibu masuk dengan raut wajah tak terbaca. Rani menunduk, tak sanggup menatap Ibu lama-lama.

"Rani tidak ingin menikah, Bu," bisiknya lirih. Suaranya tertelan oleh tangis yang tak bisa dicegah.

"Ibu tidak memberi pilihan lain," tegasnya. "Kamu mau mempermalukan Ibu dengan membatalkan lamaran yang sudah diterima?"

Rani tidak ingin membuat ibu malu, tapi sekarang sudah bukan zamannya lagi orang tua memaksakan kehendak dengan menerima lamaran tanpa persetujuan anak.

"Rani masih ingin kuliah―"

"Kuliah?" Ibu menyela. Dengan kasar, wanita 47 tahun itu mengambil buku yang tersusun rapi di meja belajar. Meski sempat terhenyak ketika nyeri di panggulnya terasa, tidak menghentikan niat ibu untuk bicara.

"Kamu lihat ini!" Ibu mengacungkan buku 7 Habbits of Highly Effective Teens.  Buku yang didapatkan Rani saat menjuarai lomba menulis essai tahun lalu. "Kamu baca buku tiap hari, tapi membaca tidak membuatmu mendapatkan uang! Lebih baik kamu menikah, hidupmu bisa terjamin. Perempuan akan kembali ke dapur, setinggi apa pun pendidikannya!"

Kalimat-kalimat tajam ibu menghunus tepat di jantungnya. Rani bukan menginginkan gadget terbaru, sekotak make-up Kylie, atau tas mahal. Rani hanya ingin melanjutkan pendidikan. Rani berhak menentukan kepada siapa ia akan menyerahkan diri dan menghabiskan hidup. Tapi di hadapan ibu, Rani kehilangan hak yang sudah dimilikinya sejak lahir.

Seandainya ia mendapatkan beasiswa, mungkin Rani tidak akan terjebak dalam perkenalan bersama Pepep. Rani gagal mendapatkan beasiswa ke Universitas. Kuota beasiswa di sekolahnya hanya tersedia untuk satu orang dan berakhir dengan didapatkan oleh temannya sekelasnya. 

Rani sudah giat belajar siang dan malam untuk beasiswa itu. Sampai dimarahi ibu karena terus-menerus duduk tanpa kegiatan. Padahal sebuah buku terbuka di pangkuannya. Bagi ibu, berkegiatan adalah membersihkan rumah, mencuci baju, memotong rumput, atau memasak. Membaca tidak termasuk dalam hitungannya.

Sedangkan bapak sudah meninggal akibat stroke saat Rani masih berumur 9 tahun. Selama ini hanya ibu yang berjuang mencari nafkah. Sejak lulus SMP, ibu menginginkan Rani berhenti sekolah. Menurut ibu, perempuan tak perlu sekolah tinggi. Di mata ibu, mampu meracik sambal dan menanak nasi jauh lebih penting daripada nilai matematika 90.

Seperti tiga tahun yang lalu, Rani nyaris tidak bisa melanjutkan pendidikan SMA. Ibunya hanya seorang buruh di pabrik garmen. Kontrak kerja yang terputus membuat Ibu nyaris berhenti setiap tiga bulan. Pabrik lebih memilih pegawai muda, daripada wanita seusia ibu. Ibu sudah di-PHK sejak akhir tahun lalu. Pekerjaannya kini serabutan. Sementara kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi.

Tanpa bantuan Pak Salih dan keluarganya, mungkin mereka tidak bisa hidup sampai saat ini.

Rani anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki dan sudah dewasa. Kakak pertamanya Danu, bekerja sebagai sopir angkot dan sudah dua tahun tak pernah mudik lebaran. Kakak keduanya bernama Hilman, seorang guru honorer. Hilman-lah yang meyakinkan ibu bahwa Rani butuh sekolah. Perempuan harus memiliki pendidikan tinggi. Hingga Ibu luluh dan mengizinkan Rani masuk SMA. Sayangnya Hilman sudah meninggal setahun lalu, akibat kelainan paru-paru yang dideritanya sejak kecil.

"Kamu sudah cukup umur, Rani."

Ibu benar. Undang-undang di Indonesia menentukan batas minimal usia menikah pada angka16 tahun untuk perempuan. Remaja perempuan yang minimal berumur 16 tahun legal untuk menikah. Tapi menikah diusia 17 tahun sama sekali tak ada dalam rencana hidupnya.

Nyaris setiap hari, televisi dan surat kabar memberitakan perceraian dan kekerasan rumah tangga. Atau contoh yang lebih nyata, Ningsih, tetangga mereka sudah dua kali menjanda diumurnya yang belum genap dua puluh tahun. Dan sekarang hidup memprihatinkan dengan seorang anak yang masih batita.

Tidakkah Ibu paham, bahwa untuk menjalan pernikahan perlu kedewasaan pikiran dan kematangan emosi?

Tidakkah Ibu mengerti bahwa anaknya ini memiliki daftar impian dan cita-cita yang panjang? Bahkan memiliki perasaan untuk mencintai lelaki pilihannya sendiri?

Rani ingin sekolah tinggi untuk menjadi dokter dan mengabdi di desa ini. Supaya kematian karena terlambat mendapat penanganan medis seperti yang dialami bapak dan kakaknya tidak terjadi lagi.

Rani mengagumi seseorang yang namanya hanya berani ia sebut dalam doa.

Apa Rani harus mengikis impian dan cita-cita cintanya begitu saja?

"Kamu cantik, Rani. Jika tak segera dinikahkan kamu bisa jadi santapan lelaki! Ibu gak mau kamu bernasib seperti Mae!"

Entah Rani harus malu atau tersinggung dengan ucapan ibu. Hampir setahun lalu, Mae, gadis paling cantik di desa ini hamil tanpa suami. Setelah itu Mae menghilang. Ibu bicara seakan Rani remaja yang suka menggoda pemuda desa. Seperti itukah Ibu melihatnya?

"Tapi Rani baru 17 tahun, Bu...."

"Ibu menikah dengan Bapakmu umur 15 tahun!" sahutnya cepat. "Dan sampai sekarang, Ibu baik-baik saja!"

Rani merengut. Ibu mungkin lupa pada nyeri panggul yang dideritanya. Begitu banyak risiko pernikahan dini dan kehamilan remaja. Abortus, prematuritas, anemia, gestosis karena alat reproduksi yang belum siap mengandung, dan masih banyak lagi. Tapi Rani menelan semua penjelasannya untuk diri sendiri. Sebab sehebat apa pun kosakata kedokterannya, Ibu tidak akan mengerti.

***

Sehari sebelum akad. Sedikit pun Ibu tidak mengubah keputusannya. Beliau bahkan tak ambil pusing saat Rani mulai berhenti makan, menangis, dan mengurung diri di kamar. Ibu yakin ini hanya sementara. Nanti Rani akan bersyukur dengan keputusan yang dipilihkannya.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari ketika ketukan pelan terdengar di jendela kamar. Rani menutup selimut sampai kepala, mungkin itu hanya pendengarannya saja. Mungkin ia terlalu takut. Dalam hati, Rani berdoa semoga hari esok tak pernah tiba.
Tapi semakin diabaikan, ketukan di jendela itu terdengar makin sering. Rani memberanikan diri. Sebelah tangannya memegang sapu, sementara tangannya yang satu membuka jendela.

Rani nyaris memukulkan gagang sapu jika seseorang di balik jendela itu tidak buru-buru menahannya.

"Ini saya."

Rani kaget melihat Pepep memakai baju tidur, dan jaket yang terbalik.

Pepep berdeham. "Saya buru-buru," ucapnya. Rani tidak menjawab, membiarkan Pepep mengatakan sendiri maksud kedatangannya.
"Maaf saya ganggu, tapi saya ingin menyampaikan hal penting."

Rani masih tetap diam.

"Sebenarnya ... pernikahan ini dilakukan untuk menyelamatkan kamu."

Omong kosong! Pepep hanya bujang tua yang berusaha mengambil keuntungan dari gadis belia tak berdaya sepertinya. 

Rani mendengus sinis. "Saya gak percaya, lebih baik kamu pergi."Rani menutup jendela namun Pepep menahannya.

"Kamu dengarkan dulu! Saya belum selesai!" Rani tetap menutup paksa. Mengabaikan jemari Pepep yang terjepit dan mulai memerah. Membuat Pepep mendorong sekuat tenaga.

"Mau mau apa lagi?!"

"Saya mau ngomong!"

"Itu ngomong!"

Pepep mendengus. "Dengar, saya menyelamatkan kamu, itu bukan main-main," tegasnya. "Kalau saya tidak menikahi kamu, Bapak saya akan menikahkan kamu dengan Kang Engkus. Kamu mau nikah sama Kang Engkus?"

Rani ternganga. Kang Engkus adalah kakak kandung Pepep. Umurnya mungkin sudah akhir tiga puluhan dan ... seorang duda.

"Bohong!"

"Terserah kalau gak percaya. Di sini, bukan cuma kamu yang terpaksa, tapi saya juga! Kamu punya mimpi, saya juga punya mimpi untuk menikah dengan perempuan lain!"

"Kalau gitu nikah aja sama orang lain!"

Dalam sekejap raut wajah Pepep berubah sedih. "Gak mungkin," desahnya, "dia sudah meninggalkan saya."

***

Rani tertunduk lesu. Ia tak berani menatap para tamu undangan yang datang ke pernikahannya.

Diantara tamu-tamu itu, ada Bagas. Pemuda tampan yang dikagumi Rani diam-diam. Melihat Bagas hanya membuat hatinya semakin sakit. Bagas bukan cuma rupawan, ia juga berotak cerdas, putra seorang guru yang dihormati. Bagas-lah teman sekolahnya yang berhasil meraih beasiswa.

Memikirkan beasiswa membuat jantungnya seperti diremas. Sekarang sudah final, pernikahan akan dimulai. Harapannya sudah tipis, bahkan ... nyaris tidak ada.

Rani pasrah. Semua usaha untuk meyakinkan Ibu telah dilakukannya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Maharani binti Ahmad dengan maskawin seperangkat alat salat--"

"HENTIKAN!"

Seorang perempuan muda menjerit, menginterupsi ijab kabul yang berjalan khidmat dan memaksa masuk ke tempat akad.

"Mae?"

"Kamu harusnya nikah sama saya, Kang! Bukan sama dia!" Mae menunjuk wajah Rani yang pucat. "Kamu ingat yang kita lakukan setahun lalu?" ucapnya berani. "Yang saya kandung itu anak kamu, Kang!" Mae mendekatkan bayi dalam pangkuannya kepada Pepep. "Ini anak Akang," bisiknya lirih. "Namanya Petra."

"Dia laki-laki? Dia hidup?" suara Pepep bergetar. Diraihnya bayi itu, tampak nyaman dalam pangkuannya. Kulit bayi itu sangat halus. Rambutnya hitam, ada titik kecoklatan di dekat hidungnya. Seperti tahi lalat yang belum tumbuh.

Tamu undangan berbisik-bisik, Pak Salih marah, tapi Pepep mengabaikannya.

Dengan penuh keteguhan Pepep menatap semua orang dengan berani. "Saya tidak ingin pernikahan ini dilanjutkan."

Diantara orang-orang yang marah dan mendesah kecewa, hanya Rani yang tersenyum dalam tangisnya.

***

Keesokan harinya Pepep bersama Mae mendatangi Rani. Tidak ada ketegangan dalam pertemuan itu. Pepep telah bertanggung jawab pada Mae dan anaknya. Hutang-hutang keluarga Rani dibebaskan, Pepep yang meminta bapaknya untuk tidak menuntut keluarga Rani, meski ia tidak menikahinya.

"Ada seseorang yang ingin bertemu," ucap Pepep siang itu. Belum sempat bertanya siapa, seorang laki-laki datang mendekati Rani.

"Bagas yang ngasih tahu saya kalau kamu akan dinikahkan sama Kakang. Kami gak sengaja ketemu di kota waktu itu. Kalau bukan Bagas yang meyakinkan, mungkin sampai sekarang saya gak akan pulang."

Rani bersyukur pernikahan itu tak pernah terjadi, meski mungkin setahun ke depan keluarganya akan jadi bahan obrolan ibu-ibu warung, dan bapak-bapak pos kamling, Rani tak peduli. Sebab Mae-lah pendamping Pepep yang seharusnya.

"Saya juga ingin mengakui sesuatu," Bagas membuka suara. Tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah map dari ransel. "Seharusnya kamu yang berhak menerima beasiswa, Rani."

Tanpa ragu, Bagas mengaku bahwa ada kecurangan yang dilakukan orang tuanya. 
"Ayah menuntut saya untuk selalu unggul. Menyadari nilai saya yang selisih di bawah kamu, ayah mengubah itu. Maafkan saya. Maafkan Ayah saya. Saya janji akan meminta Ayah untuk mengembalikan hak kamu secepatnya."

Di balik pintu, Ibu mendengarkan. Isak tangisnya menembus dinding yang tipis. Menyadari itu, Rani menghampiri beliau. Tidak ada tatapan sinis atau kalimat pedas yang diucapkannya lagi. Matanya menyorot penuh kasih. Ibu memeluk Rani, mengucapkan maaf berulang kali.

Rani tahu betapa berat beban Ibu selama ini. Tangis Ibu menjelaskan semuanya.

"Maafkan Ibu, Nak. Percayalah, sedikit pun, Ibu tidak pernah meragukan kemampuanmu."

Rani tahu, bukan keinginan Ibu memasungnya dalam ketidakberdayaan. Memaksanya untuk berhenti sekolah dan menikah muda. Ibu sudah melakukan semua yang mampu diusahakannya sejak ia belum lahir ke dunia. Sejak Bapak meninggal sampai dirinya tumbuh dewasa. 

Rani menangis terharu. Keyakinannya kuat, Tuhan memang tidak menutup telinga untuk mendengar doa dan harapan-harapannya. 

Rani mengurai pelukan Ibu. Berhadapan Bagas, Rani berterima kasih atas kejujurannya. Senyum pemuda itu melengkung. Tak ada sesal yang menggurat di wajahnya. Jika mau, Bagas bisa menyimpan rahasia itu selamanya. Namun ia tak ingin menerima yang bukan haknya. Lebih dari itu, Bagas senang melihat Rani tersenyum bahagia.

***

Klik tautan ini untuk membaca cerita lainnya. ;)

Read More

Minggu, 28 Mei 2017

Resensi Cahaya di Penjuru Hati



Judul: Cahaya di Penjuru Hati
Penulis: Alberthiene Endah
Tebal: 438 halaman
ISBN: 978-979-29-6602-2
Penerbit: ANDI
Cetakan 1, 2017

Blurb:
Ruang ICU yang mencekam dengan istri tercinta. Lili, yang terbujur koma membuat Gondo dihantar untuk menguliti kehidupan yang telah lewat. Rasa cemas kehilangan cinta sejati yang amat ia kasihi membuatnya memutar ulang kenangan yang membangun hidupnya. Dan ia temukan suatu perjalanan yang menakjubkan yang tidak disadarinya. Hidupnya selama ini luar biasa. Ternyata ketika seseorang berada di tepian jurang rasa takut kehilangan, segala keindahan yang pernah diberikan orang tercinta muncul bagai gelombang tak terbendung. Kehidupan maha dahsyat dengan kekuatan cintapun mengalir kembali, seperti sebuah film yang diputar dalam benak.

Gondo pun menghayati hidupnya kembali, anak laki-laki dari keluarga miskin yang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang bercahaya. Ia lalu dipertemukan dengan seorang perempuan luar biasa yang kemudian menemaninya meniti hidup. Mencapai apa yang ia perjuangkan. Kehidupan keluarga yang indah dan bisnis. Dan layaknya kehidupan yang juga dialami banyak orang, perpisahan akhirnya menjadi bagian yang tak terhindarkab. Istrunya yang sedang koma mengalirkan sinyal perpisahan.

***

"Ketika rumah mampu menyembuhkan luka batin penghuninya, maka itulah saat di mana keluarga telah menjadi akar bagi jiwa orang-orang di dalamnya." hlm. 184

Novel ini, mengisahkan perjuangan hidup seorang laki-laki keturunan Tionghoa bernawa Wim. Ia berasal dari Sidoarjo. Keluarganya sangat seserhana. Tapi keterbatasan hidup tak membuat keluarga Wim miskin oleh kasih sayang. Wim memiliki keluarga yang penuh cinta, orang tua yang mendidiknya dengan baik, dan saudara yang lebih dari sekadar saudara sejiwa.

Wim, meski orang tuanya hanya pekerja kecil, sungguh memiliki semangat juang yang tinggi. Saya sungguh-sungguh kagum dengan keteguhan orang tua Wim yang mengupayakan anak-anaknya untuk bisa sekolah tinggi. Padahal ibu Wim cuma pedagang kecil, ayahnya pun bukan pekerja berpenghasilan besar. Tapi mereka rela berdarah-darah demi anak-anaknya.

Hidup serba terbatas membuat Wim menjadi pekerja keras. Meski 'nakal', otaknya cerdas. Sehingga dengan kemampuan dan kemauannya yang gigih, Wim bisa kuliah. Jatuh bangun perjuangannya, untuk melanjutkan pendidikan tinggi, Wim tidak berhenti. Di saat ia menyelesaikan pendidikan tingginya di kota Jogja, ia bertemu belahan jiwanya. Seorang perempuan yang menjadi cahaya dalam hidupnya.

Perlu diingat, novel ini berdasarkan kisah nyata. Saya terbawa perasaan membacanya sejak halaman pertama. Susunan kalimat yang cantik membuat narasinya tidak menjemukan. Saya semakin larut dalam kisah hidup Wim.

"Kau tahu ketika hidup telah membawamu pada pergulatan hidup selama puluhan tahun, kau akan merindukan keluarga, seperti kebutuhanmu pada udara. Mereka pelabuhanmu. Untuk mereka, kau ingin hidup. Dan kepada mereka, kau menyerahkan hari tua." Hlm. 292

Saya selalu suka novel-novel yang ceritanya tidak hanya menguras perasaan, tapi juga mengajarkan pelajaran hidup. Novel ini adalah paket lengkap, saya tak hanya 'disadarkan' untuk lebih banyak bersyukur dan berusaha,  dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tapi juga menghargai kehadiran keluarga dan waktu yang masih kita miliki bersama mereka.

Dan, seperti buku-buku biografi Alberthiene Endah sebelumnya, kabarnya kisah dalam novel ini juga akan diangkat ke layar lebar. Bagaimana, kamu tertarik baca? Saya memberi rating 5/5 untuk buku ini.

Oh ya, cek remahan komentar saya tentang buku-buku lainnya di sini, dan di sini.
Read More

Kamis, 25 Mei 2017

Resensi Everything, Everything


Judul: Everything, Everything
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-602-74322-5-3
Penerbit: Spring

Blurb:
Penyakitku langka, dan terkenal. Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujuh belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokiku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.

***

Adalah Madeline Whittier, remaja 17 tahun yang mengidap penyakit SCID―servere combined immunodeficiency. Sebuah penyakit lemahnya sistem imun yang membuatnya rentan terkena virus. Maddy tinggal di rumah yang memiliki sistem filter udara khusus. Maddy tidak bisa bertemu sembarang orang. Orang-orang yang bertemu dengannya harus melalui proses desinfeksi. Penyakit ini membuat Maddy tidak bisa keluar rumah meski sejengkalpun.

Ketika ibunya bekerja, ia dirawat oleh Carla, perawatnya yang baik hati. Baginya Carla bukan sekadar perawat, tapi juga sahabat dan ibu kedua. Di rumah, Maddy hanya belajar dan membaca buku, koleksi bukunya banyak sekali. Tapi kehidupan monoton Maddy berubah ketika seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya.

***

Sosok Maddy dalam cerita ini, mengingatkan saya kepada Rapunzel. Tokoh Disney Princess legendaris yang tidak pernah turun dari menara seumur hidupnya. Seperti Rapunzel, Maddy juga tidak pernah keluar rumah. Bedanya, Maddy tidak dikurung oleh penyihir jahat, melainkan karena dia sakit.

"Semua berisiko. Tidak melakukan apa-apa juga punya risiko. Semua terserah kau." hlm. 76

Ini adalah salah satu percakapan Maddy dengan Carla. Ketika Maddy diam-diam menentang protokol yang dibuat ibunya untuknya agar tidak bertemu dengan sembarang orang. Dan ini adalah salah satu kalimat yang paling saya ingat. Meskipun Olly ganteng sampai bikin Maddy terkintil-kintil, Carla adalah tokoh favorit saya.

"Luangkan sedikit waktu bersama ibumu. Pacar datang dan pergi, tapi ibu adalah milikmu selamanya." hlm. 120.

Membaca buku ini, saya tidak dibawa masuk ke dalam kehidupan Maddy. Ada beberapa hal yang membuat saya bingung dan membuat saya harus membaca ulang bagian itu karena janggal. Seperti ketika dokter di Hawai yang menemukan keanehan dalam diri Maddy, tapi luput dari Carla yang memeriksanya setiap hari selama bertahun-tahun. Ending-nya juga gak seperti harapan saya. Saya gak setuju dengan sikap Maddy kepada ibunya.  Eh, saya emang pembaca banyak maunya. LOL. Saya sendiri bingung, kenapa bisa memberikan rating 4 bintang di Goodreads beberapa waktu lalu? Sepertinya saya terpngaruh kata mereka yang mengatakan buku ini bagus. Buku ini memang bagus, kovernya foto genik, cantik, lucu. Ah pokoknya segala kata yang bagus untuk mendeskripsikan kover buku ini.

Meski begitu, buku ini membuat saya tahu bahwa seorang ibu, akan melakukan apa saja demi anaknya. Sekali lagi saya ulang, apa saja. Bahkan hal paling berisiko sekalipun. Dan kalimat favorit saya dari buku ini adalah "Para ibu tidak tahu cara membenci anak-anak kesayangan mereka. Para ibu terlalu mencintai anak-anaknya." hlm. 270

Udah gitu aja. Oh ya, follow Instagram saya di @lulusyifaf. Yuk berteman~
Read More